“Loe bisa dateng ke rumah kan, Jumat ini?”
Insya Allah deh ya…”
Sebuah percakapan yang lazim gue temuin. Jujur aja, kalimat Insya Allah kini semakin Go International, tapi (ironisnya), mengalami penurunan kadar makna. Yang gue tau, Insya Allah berarti “Jika Allah berkehendak” dan setau gue juga, konsekuensi dari kalimat Insya Allah ini gak main-main, meskipun gak seberat kalimat Demi Allah atau Wallahi. Gue pikir, kalimat Insya Allah ada untuk sebuah niat positif alias kesanggupan seseorang, namun jika pada akhirnya gak bisa terlaksana, itu karena kehendak Allah semata (Yeah, siapa tau pas kita mo menuhin janji, nyawa kita diambil…who knows, right?).
Yang gue temuin sekarang, Insya Allah dijadikan sebagai “tempat bersembunyi” bagi mereka yang sebenernya gak sanggup untuk berkata “Iya” untuk sebuah janji. Contohnya pada percakapan di atas, kalimat Insya Allah ditambahin dengan kata “deh ya…” (Ini sama kasusnya dengan kalimat “Alhamdulillah banget gue bisa bla bla…).
So, sekarang ini, untuk janji yang kira-kira masih fifty-fifty antara bisa dipenuhin dan gak, gue memilih untuk make kalimat “Liat aja nanti, gue gak bisa janji sekarang…”. Lain halnya dengan janji yang “lima puluh plus satu” (ini janji atau voting DPR sih?), gue berani untuk bilang, “Insya Allah, gue bisa bla bla…”
Lantas, gue jadi inget postingan sebelumnya soal kawin… Hmmm… Insya Allah taun ini merupakan taun perubahan buat gue, termasuk soal marital status hehe….
Ah, kitu weh pokona mah!





Hi! My name is hmmmm... just call me Aban Nesta. I am currently working as a web designer and an adventurer by state of mind. I am quite involved with 

