Golkar pecah! Friksi yang ditengarai udah ada sejak Golkar “mengumandangkan” paradigma baru mereka akhirnya memuncak menjelang Pemilu Pilpres putaran kedua. Golkar terbagi ke dalam dua kubu, Akbar Tanjung dan Fahmi Idris. Seandainya gue seorang fungsionaris Golkar, gue cenderung memilih yang mana kira-kira ya? Tentunya gue condong ke Fahmi Idris. Why? Pertama, setelah jagoan gue, Amien Rais “tereliminasi” di babak penyisihan, secara pribadi gue lebih sreg milih SBY ketimbang Mega. Kedua, kalo banding-bandingin adu polemik yang dilontarkan kedua kubu, rasanya beberapa statement dari kubu Fahmi Idris yang lebih rasional dan pake otak!
Itu adalah satu dari sekian banyak contoh adanya friksi, konflik, perang dingin atau apa pun lah namanya, yang terjadi dalam satu organisasi. Ketika dua orang atau lebih berkumpul dan “sepakat” untuk membentuk satu kesatuan paham yang diimplementasikan dalam sebuah kelompok, baik formal atau tidak, berarti ada beberapa oatak di situ. Otak yang gue identikkan dengan pemikiran adalah sesuatu yang “liar” dan gak bisa dipaksain untuk disamakan dengan pemikiran orang lain tanpa melalui proses brainstorming. Trus, kalo friksi itu timbul karena masalah yang sifatnya emosional?
Dari situ coba kita kembangkan pertanyaan menjadi, “Gimana kalo loe ‘terjebak’ di antara dua kubu yang sedang clash secara dalam hal emosi?” Kata gue sih, yang ada malah bingung. Bahkan terkadang kita sulit mencegah adanya keberpiahakan, entah itu karena faktor kedekatan emosional atau yang lainnya. Kalo Habermas, seorang pemikir abad 20, bisa menganjurkan sebuah posisi menengah yang ia sebut Common sense yang rasional, demokratis dan semakin kuat untuk “menengahi” persaingan agama dan ilmu pengetahuan, bisakah kita berada dalam posisi sebagai pihak yang menengahi dalam hal ini? Gue bikin rumit lagi deh, “….dan gimana kalo kubu yang clash itu secara emosi juga deket ama loe?”
Pendekatan paling sederhana ya do everything yang gak bikin runcing pertentangan. Lebih baik lagi kalo gue bisa “menyembuhkan” friksi ini dalam posisi win-win solution. Konkretnya, gue mungkin menjelma menjadi bunglon tanpa harus menjadi oportunis, yang bisa memilah-milah mana informasi yang sekiranya “aman” buat dikonsumsi pihak satu sama lain. Sisa informasi yang gue pikir bisa bikin tambah parah, ya gue telen sendiri hehe… Seringkali gue mendapatkan kenyataan bahwa yang menjadi titik persoalan dari adanya friksi itu ternyata nihil alias berebut pepesan kosong. Atau bisa jadi dipicu prasangka satu sama lain, dan sebagai pihak yang menjadi “tong sampah” kedua belah pihak, gue tau persis bahwa gak ada yang bener dari prasangka-prasangka itu.
Kalo udah begitu, gue pun ngandelin waktu. Biarlah friksi itu meleleh sendiri seiring berjalannya waktu…





Hi! My name is hmmmm... just call me Aban Nesta. I am currently working as a web designer and an adventurer by state of mind. I am quite involved with 

