Katanya hari ini adalah hari “telanjang” buat CSS.
To know more about why styles are disabled on this website visit the Annual CSS Naked Day website for more information.
So, akhirnya weblog gue pun menelanjangi diri.
@NitaSellya sori, itu DM keknya otomatis abis gw iseng tes kepribadian haha in reply to NitaSellya 2 hrs ago
follow me (Currently127 Followers)
Katanya hari ini adalah hari “telanjang” buat CSS.
To know more about why styles are disabled on this website visit the Annual CSS Naked Day website for more information.
So, akhirnya weblog gue pun menelanjangi diri.

Shubuh-shubuh onlen di lingkungan baru (dan memulai babak baru dalam hidup gue). Mungkin karena ikut-ikutan “baru” pula, rambut gue pun kecipratan baru! Ya, terhitung sejak tanggal 28 Maret kemaren, rambut gue resmi dibabat tinggal menyisakan 1 cm saja tiap lembarnya. Well, sebenernya bukan karena serba baru tadi sih, tapi lebih karena situasi bahwa akhir-akhir ini, rambut gue sering gatal luar biasa dan setelah bini gue nyiaran, ternyata terdapat banyak lisa dan kuar yang bersemayam di kepala gue (jijik juga ye!).
BTW, pada dasarnya gue gak terlalu demen rambut cepak. Sepanjang idup gue (tsahhh!), gue baru tiga kali mengalami cepak. Waktu SD, SMA dan sekarang ini! Kalopun misalnya cepak lagi ngetren, gue lebih prefer gondrong. Tapi, sudahlah. Kuar-kuar itu kan musti dibasmi dari kepala gue, tul gak!
Masih terimbas euforia Bandung Bloggers go to Village dan bini masih merasakan akibat sengatan pedasnya seblak kurupuk.
Mingu-minggu ini, nampaknya gue musti prepare buat nyiapin diri ngadepin suasana baru yang seharusnya udah gue rasain kemaren-kemaren. Suasana baru apa itu? Yang jelas, suasana yang berkaitan dengan rutinitas dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga! Rasanya gue harus bersyukur dapetin isteri yang bener-bener pengertian ama gue, bahkan di saat akal dia gak mampu menjangkau situasi yang ada, dia tetep berusaha untuk ngerti.
Kemaren misalnya, sebenernya dia cukup enggan berhadapan dengan temen-temen BBV, karena dia ngerasa minder. Gak heran, karena dia sama sekali gak ngerti obrolan anak-anak BBV. Dia ngerti tentang weblog pun setelah secara perlahan gue kasih pengertian.
Well, dalam situasi tengah menanti kehadiran si kecil, gue harus bekerja keras buat menyambut kedatangannya. Doain gue ya…

Bandung Bloggers go to Village, Insya Allah bakal diadain hari Minggu (26/3) mendatang. Hajatan bbv ini gue usulin, selain untuk mengajak BBV-ers menyelami suasana kampung, secara pribadi, gue juga bermaksud untuk “mempublikasikan” bini gue, terutama buat mereka yang berhalangan hadir pada resepsi pernikahan gue, Juli 2005 silam.
Sebagai gambaran, kampung yang gue tinggalin sekarang ini bernama Kampung Kawungsari (lebih dikenal dengan nama Cikawung) berada di wilayah Kelurahan Wargamekar Kecamatan Baleendah dan merupakan salah satu kawasan lumbung padi di Kabupaten Bandung.

Selain itu, di kampung ini banyak terdapat tambak-tambak/kolam ikan tawar. Gak heran kalo para tukang mancing sangat mengenal kampung ini. Keluarga bini gue sendiri punya tiga kolam yang ditanamai ikan mas, mujair, nila plus ikan-ikan yang secara alamiah hidup di dalamnya. Terkadang, kolam-kolam itu disewakan dengan harga 2500-3000 perak. Di kolam yang lain sering diadain lomba mancing dengan hadiah seekor domba plus uang ratusan ribu rupiah dengan uang pendaftaran 100 rebu perak.

FYI, saat ini, sekitar 2 km ke arah selatan kampung ini, tengah di bangun Lembaga Pemasyarakatan Rancamanuk. Areal tanah seluas kurang lebih 2 hektar yang dipersiapkan untuk LP tersebut, sering digunakan anak-anak kampung setempat untuk bermain sepakbola. So, kalo berminat, gue bisa meng-arrange sebuah friendly game melawan mereka.
Lalu, apa main event dari Bandung Bloggers go to Village nanti? Selain memancing, Insya Allah gue bakal nyiapin beberapa kilo ikan mas untuk dibakar. Kenapa gak nunggu hasil mancing? Bukannya apa-apa, gue rada menyangsikan nguseup abilities BBV-ers hehe… Jadinya lebih baik diantisipasi sejak awal, takut-takut kalo hasil mancingnya nihil nanti.
Menu lain yang bakal disiapin selain ikan bakar dan nasi liwet, antara lain: sambal hardcore (goang), sambal kecap, seblak kurupuk, cobek genjer, tahu goreng , tempe goreng, makanan naga (jengkol dan pete) plus desert air putih hehe… Yang pasti menu yang disajikan dijamin 100% kampung!
So, What are you waiting for? Please confirm your participation!
Ini cerita lama dibalik proses pendaftaran seleksi CPNS tempo hari. Gue yang “iseng-iseng berhadiah” mendaftarkan diri, udah ngurus segala persyaratan administratif sejak Desember 2005. Pertama, gue ngingkig ke Kantor Dinas Tenaga Kerja Kab. Bandung buat ngurusin ammonito alias Kartu Pencari Kerja. Belun masuk ke ruang pembuatan kartu kuning, gue langsung bernafas lega ketika membaca tulisan di kaca pintu depan, “Pembuatan Kartu Kuning Tidak Dipungut Biaya!”. Namun, kelegaan itu gak berumur panjang, karena dari beberapa pos birokrasi, dalam hal ini pencatatan kartu dan legalisir ternyata ada istilah “uang saridona”. Hmm… gue sempet berpikir gak bakalan ngerogoh kocek, tapi ketika ngeliat wajah lelah si petugas, akhirnya gue ngeluarin total duit 5000 perak. Tokh, yang penting gue “rido” ngeluarinnya. Cuman, gue mengimbau ama Disnaker Kabupaten Bandung, lain kali tulisan itu diedit dikit jadi “Pembuatan Kartu Kuning Tidak Dipungut Biaya (Kalo gak rido)!”.
Si Polres Bandung lain lagi ceritanya. Mereka udah saklek masang tarif 10000 perak untuk pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) plus 5000 perak buat administrasi sidik jari bagi “klien” yang baru. So, buat mereka yang baru pertama kali bikin SKCK tingkat Polres, total 25000 perak musti kita rogoh. Lha 10000 lagi? Itu untuk biaya pembuatan surat pengantar dari Polsek setempat. Biaya itu bisa aja membengkak menjadi 30000-35000 perak jika ditambah (lagi-lagi) uang saridona di tingkat desa/kelurahan untuk pembuatan surat pengantar ke Polsek. Untungnya, gue kenal baik ama Sekretaris Desa gue, jadinya “beliau” gak mau (atau malu kali!) nerima ketika gue hendak membayar sejumlah uang.
Ironisnya, pas gue daftar seleksi CPNS di lingkungan Universitas Padjadjaran, 2 persyaratan itu (kartu kuning dan SKCK) gak masuk nominasi sama sekali! Mereka cuman minta fotokopi ijazah terakhir, pas foto hitam putih ukuran 3X4 (4 lembar) plus surat lamaran! Gue pun cuman bisa bergumam, “Apa pun butuh perjuangan…”. Ah, kitu weh pokona mah…!