Masih terimbas euforia Bandung Bloggers go to Village dan bini masih merasakan akibat sengatan pedasnya seblak kurupuk.
Mingu-minggu ini, nampaknya gue musti prepare buat nyiapin diri ngadepin suasana baru yang seharusnya udah gue rasain kemaren-kemaren. Suasana baru apa itu? Yang jelas, suasana yang berkaitan dengan rutinitas dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga! Rasanya gue harus bersyukur dapetin isteri yang bener-bener pengertian ama gue, bahkan di saat akal dia gak mampu menjangkau situasi yang ada, dia tetep berusaha untuk ngerti.
Kemaren misalnya, sebenernya dia cukup enggan berhadapan dengan temen-temen BBV, karena dia ngerasa minder. Gak heran, karena dia sama sekali gak ngerti obrolan anak-anak BBV. Dia ngerti tentang weblog pun setelah secara perlahan gue kasih pengertian.
Well, dalam situasi tengah menanti kehadiran si kecil, gue harus bekerja keras buat menyambut kedatangannya. Doain gue ya…
Bandung Bloggers go to Village, Insya Allah bakal diadain hari Minggu (26/3) mendatang. Hajatan bbv ini gue usulin, selain untuk mengajak BBV-ers menyelami suasana kampung, secara pribadi, gue juga bermaksud untuk “mempublikasikan” bini gue, terutama buat mereka yang berhalangan hadir pada resepsi pernikahan gue, Juli 2005 silam.
Sebagai gambaran, kampung yang gue tinggalin sekarang ini bernama Kampung Kawungsari (lebih dikenal dengan nama Cikawung) berada di wilayah Kelurahan Wargamekar Kecamatan Baleendah dan merupakan salah satu kawasan lumbung padi di Kabupaten Bandung.

Selain itu, di kampung ini banyak terdapat tambak-tambak/kolam ikan tawar. Gak heran kalo para tukang mancing sangat mengenal kampung ini. Keluarga bini gue sendiri punya tiga kolam yang ditanamai ikan mas, mujair, nila plus ikan-ikan yang secara alamiah hidup di dalamnya. Terkadang, kolam-kolam itu disewakan dengan harga 2500-3000 perak. Di kolam yang lain sering diadain lomba mancing dengan hadiah seekor domba plus uang ratusan ribu rupiah dengan uang pendaftaran 100 rebu perak.

FYI, saat ini, sekitar 2 km ke arah selatan kampung ini, tengah di bangun Lembaga Pemasyarakatan Rancamanuk. Areal tanah seluas kurang lebih 2 hektar yang dipersiapkan untuk LP tersebut, sering digunakan anak-anak kampung setempat untuk bermain sepakbola. So, kalo berminat, gue bisa meng-arrange sebuah friendly game melawan mereka.
Lalu, apa main event dari Bandung Bloggers go to Village nanti? Selain memancing, Insya Allah gue bakal nyiapin beberapa kilo ikan mas untuk dibakar. Kenapa gak nunggu hasil mancing? Bukannya apa-apa, gue rada menyangsikan nguseup abilities BBV-ers hehe… Jadinya lebih baik diantisipasi sejak awal, takut-takut kalo hasil mancingnya nihil nanti.
Menu lain yang bakal disiapin selain ikan bakar dan nasi liwet, antara lain: sambal hardcore (goang), sambal kecap, seblak kurupuk, cobek genjer, tahu goreng , tempe goreng, makanan naga (jengkol dan pete) plus desert air putih hehe… Yang pasti menu yang disajikan dijamin 100% kampung!
So, What are you waiting for? Please confirm your participation!
Ini cerita lama dibalik proses pendaftaran seleksi CPNS tempo hari. Gue yang “iseng-iseng berhadiah” mendaftarkan diri, udah ngurus segala persyaratan administratif sejak Desember 2005. Pertama, gue ngingkig ke Kantor Dinas Tenaga Kerja Kab. Bandung buat ngurusin ammonito alias Kartu Pencari Kerja. Belun masuk ke ruang pembuatan kartu kuning, gue langsung bernafas lega ketika membaca tulisan di kaca pintu depan, “Pembuatan Kartu Kuning Tidak Dipungut Biaya!”. Namun, kelegaan itu gak berumur panjang, karena dari beberapa pos birokrasi, dalam hal ini pencatatan kartu dan legalisir ternyata ada istilah “uang saridona”. Hmm… gue sempet berpikir gak bakalan ngerogoh kocek, tapi ketika ngeliat wajah lelah si petugas, akhirnya gue ngeluarin total duit 5000 perak. Tokh, yang penting gue “rido” ngeluarinnya. Cuman, gue mengimbau ama Disnaker Kabupaten Bandung, lain kali tulisan itu diedit dikit jadi “Pembuatan Kartu Kuning Tidak Dipungut Biaya (Kalo gak rido)!”.
Si Polres Bandung lain lagi ceritanya. Mereka udah saklek masang tarif 10000 perak untuk pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) plus 5000 perak buat administrasi sidik jari bagi “klien” yang baru. So, buat mereka yang baru pertama kali bikin SKCK tingkat Polres, total 25000 perak musti kita rogoh. Lha 10000 lagi? Itu untuk biaya pembuatan surat pengantar dari Polsek setempat. Biaya itu bisa aja membengkak menjadi 30000-35000 perak jika ditambah (lagi-lagi) uang saridona di tingkat desa/kelurahan untuk pembuatan surat pengantar ke Polsek. Untungnya, gue kenal baik ama Sekretaris Desa gue, jadinya “beliau” gak mau (atau malu kali!) nerima ketika gue hendak membayar sejumlah uang.
Ironisnya, pas gue daftar seleksi CPNS di lingkungan Universitas Padjadjaran, 2 persyaratan itu (kartu kuning dan SKCK) gak masuk nominasi sama sekali! Mereka cuman minta fotokopi ijazah terakhir, pas foto hitam putih ukuran 3X4 (4 lembar) plus surat lamaran! Gue pun cuman bisa bergumam, “Apa pun butuh perjuangan…”. Ah, kitu weh pokona mah…!
BBV adalah sebuah komunitas weblog di Bandung. Komunitas yang berdiri pada pertengahan taun 2003 ini dulu sering walking di Cihampelas dan sekarang rajin ber-ohlala ria di Plaza Dago. Gue sendiri ngeliat ada yang unik tentang BBV ini. Menurut gue, nama yang lebih cocok buat BBV adalah IBV alias Indonesian Blog Village. Kenapa? Hayu urang pedar, Barudak…
Pertama “bahasa nasional” BBV bukanlah bahasa Sunda, sebagaimana sebagian besar orang Bandung memakainya, melainkan bahasa Indonesia yang rada-rada berkiblat ke Betawi dengan “lu-gue“-nya. BBV-ers yang fasih berbahasa Sunda mungkin bisa dihitung dengan jari. Selain gue, bhima, diki, jowi, yudha, isman, windy, rynz dan ciphie.
Kedua, layaknya klub sepakbola di Liga Indonesia, BBV banyak merekrut “legiun asing”. Presidennya aja orang Melayu, Cik! Selain Melayu, BBV juga dihuni orang Bali, Batak, Sulawesi, Jawa, Minang, Aceh, etc.
Ketiga, gak sedikit BBV-ers yang memiliki 2 “kewarganegaraan” seperti ciphie dan rynz yang juga merupakan lenongers. Bahkan, poetra “menyeberang” ke BBV dengan maksud meminta “suaka politik”. Mungkinkah ini karena BBV menganut asas ius soli dan ius sanguinis?
Keempat, BBV belun pernah ngadain event “Nonton Bareng Persib”! Persib itu salah satu icon Bandung loh! So, kapan kita rame-rame ke Stadion Siliwangi buat nonton Persib sekaligus memasyarakatkan blog ke para anggota Viking?
Well, itulah sebagian kecil “kekayaan” yang bisa jadi cuman dimiliki oleh IBV eh… BBV, yaitu pluralitas! Bisa dibilang gitu karena BBV berdiri bukan didasari primordialisme, melainkan karena kedekatan interest dan regional. Lagian, jiwa “bandungisme” para BBV-ers gak usah dipertanyakan lagi. Tapi sekali-kali, kita (BBV-ers), harusnya bisa menepuk dada dan berkata lantang, “Aing urang Bandung, yeuh! Tong olo-olo bisi didodet siah!” (Njis, diki pisaaannnn…!)
Ah, ternyata jiwa separatis gue masih dominan hehehe…. Hidup Bebepe!
Ya, terhitung sejak tadi malem, pas malem Valentine, gue resmi pisah ranjang. Eitss… tapi masih satu atap kok! Sekali lagi, waktu membuktikan bahwa mempunyai seorang isteri yang lagi hamil harus penuh dengan kompromi. Bawaan orok membuat bini gue ngerasa gerah yang rada-rada hiper. Bayangin aja, di saat orang lain sibuk menyelimuti dirinya, dia malah sibuk nyari kipas! Alhasil, ranjang yang didesain buat berdua pun dirasa kurang space-nya. Kesimpulannya, gue pun musti ngegotong kasur kecil dan ngampar di bawah ranjang utama. Kalo udah gini, jatah “ngalongok si utun” pun terancam raib!
Tapi gak apa-apa, semua memang perlu pembelajaran. Untuk jadi seorang bokap pun ternyata perlu belajar! Hasilnya, 45 menit kursus kilat dari rynz sungguh bermanfaat (hatur nuhun, Ceu! It did help!). Dari mulai komparasi “kenyataan di lapangan” dengan pengalaman si ceuceu ternyata memang sekali lagi membuktikan, gue musti banyak kompromi dan ekstra mengesampingkan ego pribadi.
Satu hal yang musti digarisbawahi di sini, ada dilematis yang gak terlalu mengganggu emang, tapi lumayan musingin. Di satu sisi, nenek mertua notabene adalah seorang yang rajin wirid dan sholat, tapi kental dengan klenik dan mitos. Di sisi lain, ayah mertua dan nyokap gue adalah orang-orang yang mendapat didikan agama Islam dari Persis (yang sangat mengharamkan klenik dan mitos). Seringkali ada beberapa kasus yang bentrok antara klenik dan sisi pandangan agama. Contohnya, ketika bini gue sakit, neneknya mengharuskan dia tidur menghadap barat, yang artinya berlawanan dengan letak ranjang gue. Atau juga ketika gue ngajak bini ngejenguk nyokap di Banjaran. Nenek bilang, jangan sekarang, katanya Batara Kala masih ada di kulon (barat). Memang Banjaran terletak di sebelah barat Ciparay sih, tapi yang jadi pertanyaan, siapa Batara Kala itu? Apa gue kenal? Akhirnya emang gue turutin, meskipun dengan alesan sendiri, dalam arti tidak mempercayai makhluk bernama Batara Kala tadi.
Apa pun itu, gue cukup menikmati masa-masa gue menjadi seorang calon ayah, meskipun itu harus kental dengan aroma kompromi. Ah, kitu weh pokona mah!
Page 12 of 17
...
1011121314
...