My Unconscious Mind

My Unconscious Mind

 
My Unconscious Mind
 
 

Isteriku…

 

Isteriku…
Tahukah Kamu…?
Aku selalu menatapmu dalam-dalam ketika Kamu tidur…
Kamu dan perut besarmu itu, membuatku tak bergeming di sampingmu…
Sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga sederhana yang bahagia (
I hope…)

Isteriku…
Tahukah Kamu…?
Aku selalu mengusap lembut rambut dan perutmu ketika Kamu tidur…
dan bergumam,
“I love you…”
Harum rambutmu dan “tendangan” si kecil membuatku terpana di sampingmu…
We’re half way there, honey…

Isteriku…
Tahukah Kamu…?
Aku selalu mencium kening dan membetulkan letak selimut kecil kita…
“Kamu dan si kecil harus selalu tetap hangat, meskipun aku kedinginan…”
Halusnya kulitmu membuatku terdiam beberapa saat…
Untuk sekadar tahu bahwa Kamu selalu di sampingku…

Isteriku…
Tahukah Kamu…?
Kamulah kekuatanku…
Kamulah detak nadiku…
Kamulah isak tangis dan tawaku…
dan si kecil adalah nyawaku…

Thanks for being there for me…

 
 

Angie: Brain, Beauty, Behaviour, Blessed and Blogging

 

Angelina Sondakh's Blog

Apa jadinya kalo seorang selebritis ngeblog? Jawabnya bisa dilihat di sini. Angelina Sondakh, seorang anggota parlemen Republik Indonesia, Puteri Indonesia 2001, Duta Orangutan dan penulis “Female power is not Beauty”, ternyata ngeblog juga! Seorang Ibu Negara pun merasa perlu untuk mengucapkan selamat diluncurkannya blog Angie, yang bertitle Brain, Beauty, Behaviour and Blessed itu,

…Saya menyambut gembira dan positif diluncurkanya weblog (angelinasondakh.blogs.com). Saya yakin weblog yang tentunya berisi perjalanan pribadi Angelina Sondakh, seorang Puteri Indonesia 2001, Kader dan Wakil Rakyat dari Partai DEMOKRAT ini akan bermanfaat bagi pembacanya…

Terakhir kali dia posting dia curhat abis-abisan soal hubungannya dengan Adji Massaid. Hasilnya, sampe gue posting sekarang ini, udah ada 452 komentar di postingan tersebut!
Hal yang paling mengusik gue adalah kenyataan bahwa di saat selebritis lain begitu peka terhadap radius privasi mereka, Angie justru berbicara banyak di blognya itu. Angie yang gue tau adalah seorang yang gak cantik (tapi charming), smart dan terpelajar. Dari latar belakang pribadinya tersebut, cukup masuk akal jika Angie lebih memilih terbuka lewat blog, ketimbang media lainnya, sekaligus juga press release. Selain gak populis, dengan curhat via blog, citra intelektualnya cukup terjaga.
Postingan dengan judul “ADJI MASSAID (The man once I ignored)” sendiri disampaikan dengan gaya bertutur yang mengalir alias enak dibaca. Rutinitasnya sebagai wakil rakyat di Gedung DPR, sedikit banyak mempengaruhi kesantunannya dalam bercerita. Tapi tetep aja, sisi selebritisnya menyeruak di ending postingan…

Saat itu image negatif tentang Adji runtuh �. Kekaguman saya perlahan � lahan tumbuh �. Walaupun sampai detik itu saya berusaha keras untuk menekan perasaan ini � namun �� saat itu kurasakan ada sesuatu yang lain�����Apakah ini namanya cinta? I don�t know �.. tapi yang pasti sejak saat itulah ��

Satu hal yang patut kita cermati di sini, apakah Angie akan konsisten dengan prinsip yang sering ia lontarkan di hadapan media infotainment bahwa ia mengkriteriakan pasangan yang seiman untuk menjadi pendamping hidupnya, sementara, kita tau kalo Adji Massaid berlainan agama. We’ll see about that!

 
 

(Tak) Harus Kembali

 

Tulisan (pertama) gue kali ini bener-bener terinspirasi oleh seorang Angryanto Rachdyatmaka, Pemred-nya Tabloid SOCCER, yang nyaris saja “hiatus” menulis kolom Injury Time. Well, seperti halnya angry, gue pun ngerasa kerdil kalo berhenti ngeblog, meskipun untuk itu, gue kudu ngebenahin hal-hal yang bersifat “administratif”.
Yeah, akhirnya gue memutuskan kembali, meskipun beberapa “pilihan baru” nampak menggoda dan bahkan mem-force gue untuk tidak kembali. Seperti halnya feedback gue, “Kalo pilihan lama masih banyak yang harus digali, kenapa musti melirik pilihan baru?”. Meskipun di sekeliling gue udah ampir berubah total, ketika kuburan sekarang ini menjadi lokasi syuting favorit sinetron, ketika makhluk bernama TDL menjadi momok yang menakutkan kedua setelah BBM… dan ketika gue sibuk mencari nama untuk anak pertama gue yang Insya Allah bakal lahir sekitar bulan Mei ini, dan ketika-ketika yang lainnya.
Tapi memang yang namanya jeda (tak) harus kembali…

 
 

Insya Allah…

 

“Loe bisa dateng ke rumah kan, Jumat ini?”
Insya Allah deh ya…”

Sebuah percakapan yang lazim gue temuin. Jujur aja, kalimat Insya Allah kini semakin Go International, tapi (ironisnya), mengalami penurunan kadar makna. Yang gue tau, Insya Allah berarti “Jika Allah berkehendak” dan setau gue juga, konsekuensi dari kalimat Insya Allah ini gak main-main, meskipun gak seberat kalimat Demi Allah atau Wallahi. Gue pikir, kalimat Insya Allah ada untuk sebuah niat positif alias kesanggupan seseorang, namun jika pada akhirnya gak bisa terlaksana, itu karena kehendak Allah semata (Yeah, siapa tau pas kita mo menuhin janji, nyawa kita diambil…who knows, right?).

Yang gue temuin sekarang, Insya Allah dijadikan sebagai “tempat bersembunyi” bagi mereka yang sebenernya gak sanggup untuk berkata “Iya” untuk sebuah janji. Contohnya pada percakapan di atas, kalimat Insya Allah ditambahin dengan kata “deh ya…” (Ini sama kasusnya dengan kalimat “Alhamdulillah banget gue bisa bla bla…).
So, sekarang ini, untuk janji yang kira-kira masih fifty-fifty antara bisa dipenuhin dan gak, gue memilih untuk make kalimat “Liat aja nanti, gue gak bisa janji sekarang…”. Lain halnya dengan janji yang “lima puluh plus satu” (ini janji atau voting DPR sih?), gue berani untuk bilang, “Insya Allah, gue bisa bla bla…”
Lantas, gue jadi inget postingan sebelumnya soal kawin… Hmmm… Insya Allah taun ini merupakan taun perubahan buat gue, termasuk soal marital status hehe….

Ah, kitu weh pokona mah!

 
 

Kebenaran: Antara Konfirmasi dan Sanggahan

 

Barusan “iseng-iseng” menghadiri persidangan pidana di Pengadilan Negeri Bale Bandung. Tercipta dialog antara Hakim dan Terdakwa yang diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan atas pernyataan saksi…

Hakim: “Sdr. Terdakwa, apakah ada pernyataan sanggahan atas pernyataan saksi tadi?”
Terdakwa: “Saya ingin menambahkan…”
Hakim: “Maaf, saya bertanya, apakah ada pernyataan sanggahan? Bukan pernyataan tambahan!”
Terdakwa: “Oh cukup Pak Hakim…”

Bukan isi dialog yang pengen gue tekenin di sini. Tapi proses yang terjadi. Gue ngeliat bahwa kebenaran yang dicari selalu melibatkan kata “konfirmasi” dan “sanggahan”. Ketika dua proses itu mengalami distorsi, maka kebenaran pun akan samar. Betul gak sih?
Ah, kitu we pokona mah!

 
 
Page 13 of 17First...101112131415...Last