Alih-alih ngomong gini…
“Percumah sayah bawa dokumen teknis, ternyata dokumen itu sama sekali gak ditanyain!”
kan lebih baik nyeletuk gini…
“Mending bawa dokumen teknis tapi gak ditanyain, daripada gak bawa dokumen teknis terus ditanyain…”
Trus esensinya apa? Ya, persepsikan aja judul postingan ini…
Kalo ditanya, “Berapa bungkus sehari kamu merokok?” Gue gak bisa jawab secara pasti karena jawabannya sangat situasional. Kalo hari gue berjalan normal (bangun pagi, tidur jam 9 malem), paling banter gue merokok sebungkus. Itu pun dengan catatan bahwa gue ngabisin 12 batang garpit tanpa ada embel-embel “cik aya roko teu?” (baca: gak ada yang minta). Tapi kalo hari gue supernormal (bangun rada siang, tidur shubuh), gue pun sanggup ngabisin sampe 3 bungkus!
Gak usah nasihatin gue kalo ngerokok itu gak sehat, gak usah ngelarang gue buat ngerokok, etc karena gue amat sangat tau kalo ngerokok itu gak sehat. Tapi emang gue belum sadar atau dengan kata lain, gue masih fly ama nikmatnya ngerokok. Sekarang ini, gue masih gogodeg ama mereka yang sanggup duduk berjam-jam depan komputer tanpa ngudud! Gue angkat jempol deh, karena gue saat ini belun sanggup kayak gitu. Kalopun gue paksain, yang ada malah konsentrasi kaweur dan teu puguh cabak karena mulut asem.
Mungkin joke yang mengatakan bahwa gue akan lebih memilih rokok ketimbang wanita masih berlaku. Ya, karena wanita bisa setiap saat ninggalin gue, sedangkan rokok never dies!

Kemaren dapet kiriman artikel ini dari salah seorang rekanan kerja. Awalnya, gue cuman menganggap ini sebagai joke intelektual a la seorang programmer yang udah molotok di PostGreSQL. Tapi setelah gue telusuri lagi, ternyata memang dalem juga maknanya.
Bini gue adalah salah seorang yang sering nyuruh gue untuk membabat habis jenggot gue. Alesannya, dia bilang sering geuleuh kalo pas gue makan atau minum, karena seringkali ada remeh atau tetesan air yang nyangsang di antara helai jenggot gue. Cukup kuat emang alesannya, tapi gue tetep gak bergeming dengan alesan bahwa miara jenggot itu sunnah rasul. Berdasarkan artikel yang dikirim rekanan gue:
…Ada tiga pendapat mengenai mencukur jenggot:
- Pendapat yang mengharamkan seperti yang menjadi pandangan Ibn Taymiyah. Di antara alasannya karena redaksi hadis di atas berbentuk perintah. Juga karena berbeda dengan orang kafir wajib hukumnya. Karenanya tiada keterangan yang menyatakan bahwa ada seorang sahabat yang mencukur janggut.
- pendapat yang menyatakan makruh seperti yang dikatakan oleh al-Qadhi Iyadh. Beliau berkata, â€Makruhnya hukumnya mencukur, memotong, dan menghabisi jenggot. Kalau memotong ujung dan sampingnya lantaran terlalu lebat, hal itu baik.â€
- Pendapat yang menyatakan mubah yang banyak dikatakan oleh ulama pada saat ini dengan alasan bahwa membiarkan jenggot termasuk kebiasaan Rasul saw. Namun, bukan termasuk dalam urusan ibadah.
Well, emang, miara jenggot ternyata bukan termasuk ibadah, tapi lebih sebagai ciri yang ngebedain kaum Muslim dengan Kafir (pada zaman Rasulullah). Sekarang? Non-Muslim pun banyak yang piara jenggot!
Tapi ada satu hal yang bikin gue keukeuh. Sekarang ini, seringkali untuk sekadar cukuran (rambut, kumis dan jenggot) sering gak kepikiran. Walhasil, ketika pulang ke rumah kumis pun mulai lebat. Nah, menurut gue, akan kumis yang lebat akan lebih “ternetralisir” dengan jenggot yang lebat pula, ketimbang kumis lebat dengan dagu yang polos!
Dan jenggot gue pun masih tetap pada tempatnya…

Satu kalimat saja di hari ini…
Happy Birthday The 25th, My Beloved Wife…
When we first met, I just know that you’re the right one for me…
Pantesan si empunya meja terdahulu begitu rela “menghibahkan” meja nan luas ini ama gue. Ya, kecenderungan orang untuk mencari ruang yang lebih luas menjadi penyebabnya. Gue lebih sering tidak mengenali barang-barang yang ada di meja gue sendiri. Geus puguh ari cangkir, gelas atau piring bekas pake yang (kemungkinan) lupa disimpen di dapur.
Maaf-maaf, bukannya gue males ngeberesin barang-barang asing itu, cuman gue takut leuleungitan! Eta hungkul!
…dan ruang gerak mouse gue pun pada akhirnya sama sempitnya dengan meja yang lama…