Yudha pernah bilang, “Ketika loe punya anak, maka loe akan ngerasain keajaiban…”. Gak salah sama sekali! Banyak keajaiban yang gue alamin pasca kelahiran Najla. Seminggu setelah kelahiran Najla (18/05), tiba waktunya untuk melaksanak sunnah rasul, yaitu cukuran (bukan syukuran) dan ‘aqiqah. Tadinya, cuman acara cukuran yang disiapkan, namun 2 hari menjelang hari-h, alhamdulillah gue mendapatkan rejeki yang tak terduga dari kantor (rejeki anak kali ye…), so, syukuran ‘aqiqah pun bisa terlaksana. Alhamdulillah, tali pusar Najla pun puput pada hari yang sama. Sehingga, bisa dibilang dalam satu hari 3 momen bisa terlaksana.

Domba seharga 750 rebu perak pun dengan pasrah disembelih. Maaf, kalo gambar kurang layak diliat buat dikonsumsi anak-anak. Tapi, jujur aja, ketika gue nyiapin kamera, dombanya udah keburu dipotong, alhasil, kepala domba inilah yang tersedia sebagai bukti. Segera setelah dipotong-potong, 80 plastik berisi potongan daging domba itu pun dibagikan serata mungkin ke tetangga-tetangga.
Sementara, rambut Najla pun dibabat habis. (Sekali lagi) Gue gak sempet ngambil foto dia sebelum dicukur. Rambut hasil cukuran pun ditimbang di Toko Mas seberat 0,75 gram. Jumlah jamleh yang disedekahkan Rp 112.500 (harga emas di Ciparay 150 rebu/gram). Atas inisiatif mertua, uang cukuran dibagikan ke anak-anak kecil yang sering mengaji di Masjid. Setiap anak dapet 5000 perak. Pas dicukur, gue rada gak tega juga liatnya. Gue lebih kuat liatin bini berjuang melahirkan ketimbang liat rambut anak gue dicukur.
Alhamdulillah, istilah “setiap anak yang lahir selalu dibarengi rejeki dari Allah” terbukti sudah. Semoga, gue dan bini bisa ngejaga “amanat” Allah yang paling berharga ini.
Ucapan Terima Kasih Setulus-tulusnya buat Kang Yudi, Kang Aries, Diki, Ipey dan Kru Jerbee; Ramti (atas pinjaman kamdig-nya), Yudha (atas (bagi-bagi pengalamannya) dan semua pihak yang telah membantu dirilisnya album yang pertama ini (loh?)
Alhamdulillah, anak gue udah lahir hari Jumat kemarin (12/05) pukul 20.20 dengan berat 3500 gram. Sesuai analisa Dokter, anak gue berkelamin cewek. 2 hari kemudian, gue sempet menamainya Najla Raisa Munggarani. Namun, akhirnya nama belakang Munggarani diganti menjadi Maharani karena veto dari mertua. Yupe, Najla Raisa Maharani. Najla dalam bahasa Arab berarti mata yang elok/lebar. Raisa gue ambil dari kata “rais” yang artinya “pemimpin” dan Maharani setelah gue tanya ke Om Wiki ternyata artinya adalah:
The word Maharaja (also spelled maharajah) is Hindi as well as ancient Sanskrit for “high king” (a karmadharaya from maha “great” and rajan “king”). Its use is primarily for Hindu potentates (ruler or sovereign). The female equivalent to Maharaja is Maharani (or Maharanee), a title used either by the wife of a Maharaja or, in the few states where that is possible, by a woman ruling in her own right. In Hindi, the suffix ‘a’ is silent so it is pronounced Maharaj.
Intinya, bagi gue, nama anak adalah sebuah pengharapan. So, meskipun anak gue cewek, gue berharap dia bisa menjadi pemimpin (setidaknya bagi adik-adiknya kelak kalo masih dipercaya ama Yang Di Atas).
Btw, rasanya interval updating blog gue kian gak tentu. Load gawean yang menyita perhatian plus sense of blogging gue yang justru makin menurun bikin blog ini jarang update. Untuk itulah, kayaknya gue musti sedikit rehat dari dunia per-blog-an untuk sementara. Bukan hiatus, karena blog tetep gue open. Kasarnya, gue “minta ijin” untuk tidak mengupdate blog sampe batas waktu yang belun bisa ditentuin. Biarlah blog ini tetep “mengudara” dan gue untuk sementara “mendarat”. Tokh dipatok ayam pun sekarang rada-rada gak keurus (loh? apa hubungannya?).
Mohon doa buat anak gue ya…
Satu kutipan dari blog friendster bos:
…Anaking … geura teuteup ieu langit, geura tancebkeun impian jeung harepan hidep saluhur luhurna lir langit anu teu weleh mawa kaendahan, da hirup mah gumantung kana pangharepan jeung cita-cita urang. Anaking geura papag jeung geura udag eta impian teh sing ngawujud dina kanyataan sing ngabukti dina bebeneran ku elmu jeung kasholehan…(…Anakku…tataplah langit ini, tancapkan impian dan harapan kamu setinggi-tingginya seperti langit yang selalu membawa keindahan, karena hidup tergantung dari harapan dan cita-cita kita. Anakku jemput dan kejarlah impian itu sampai terwujud menjadi kenyataan dan semoga terejawantahkan dalam ilmu dan kesalehan…)
Speechless…
Masih dalam “euforia” menyambut kelahiran anak pertama. Setelah posting soal kebingungan nyari nama, memang banyak masukan soal nama, dari yang asal njeplak sampe yang serius. Ternyata postingan itu sensitif juga. Buktinya, dari referrer yang ada, keyword search engine yang paling dominan adalah seputar “nama-nama bayi”. Padahal tau sendiri kalo gue justru masih kelimpungan. Sampe-sampe gue beli buku nama bayi plus tiga buku lainnya dengan status pinjaman, ikutan milis nama bayi dan register ke anmum Indonesia. So, buat pengunjung yang dateng ke sini karena “diantar” ama Google buat nyari nama bayi, punten pisan, da abdi oge sami nuju puyeng milarian nami kanggo pun anak hehehe…Oiya, banyak yang nanyain utun inji tuh apa sih, coba cek di sini artinya (ngerti gak ya?).

Pertengahan April! Itu yang dibilang dokter kandungan waktu gue ama bini ngecek kandungan yang diperkirakan udah berumur 32 minggu (waktu itu). Well, pertengahan April itu udah tiba dan gue musti bersiap-siap menyambut kedatangan si Utun. Persiapan di sini tentunya bukan persiapan fisik (Alhamdulillah, perlengkapan bayi udah lengkap…), tapi lebih ke persiapan mental dan psikis.
Gak usah disebutin di sini berapa banyak “konsultan” yang dimintai pengalamannya sekitar hamil dan melahirkan. Ada yang senada, tapi banyak juga yang bertolak belakang. Dari soal minum minyak kelentik ampe perlu tidaknya dijahit pasca ngelahirin. Thx anyway, dari semuanya gue bisa ngerangkum mana yang baik dan mana yang kira-kira gak baik buat persalinan bini gue nanti. Yang pasti, gue pengen ada di sisi bini gue pas proses kelahiran dimulai. Cuman itu yang bisa gue lakukan pada saat dia berjuang di samping berdoa tentunya.
BTW, dari hasil konsultasi dengan dokter tadi, hasil USG dua dimensi, (kata dokter tadi) anak gue diperkirakan perempuan! Tapi bagaimana pun, gue musti nyiapin nama buat anak laki-laki juga. Kenyataannya, gue masih kesulitan nemuin nama untuk anak laki-laki yang bagus dari artikulasi dan maknanya. Sementara untuk nama perempuan, gue udah ngantongin beberapa alternatif. Ada yang mau nyumbang nama, maybe?