Semua berawal dari kegagalan yang kata orang adalah sukses yang tertunda. Ya, semula gue begitu yakin bahwa takkan lari gunung dikejar. Tapi pada kenyataannya, maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Padahal, gue udah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, meskipun sebenernya gue bisa aja sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, atau bahkan sambil menyelam minum air!
Bener-bener gak adil! Ini sama halnya dengan air susu dibalas dengan air tuba. Gue gak peduli alesan karena nila setitik, rusak susu sebelanga, jadinya gue gak dapet air susu! Jangan macem-macem ama gue deh! Meskipun gue kecil dan tua, tapi kecil-kecil cabe rawit sekaligus tua tua keladi, makin tua makin menjadi!
Dunia emang sudah gila. Penghuninya pun udah menjelma menjadi berbagai macam species. Ada gula ada semut, ada udang di balik batu, serigala berbulu domba, katak di bawah tempurung, pungguk merindukan bulan, etc.
Ah, sudahlah… hati kecil gue pun berkata, “Buka hati dan kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina! Ha? Cina? Gue belun pernah ke Cina! Akhirnya, karena malu bertanya sesat di jalan, gue pun bertanya ama salah seorang pejalan kaki, “Mas, kalo mau ke Cina lewat jalan mana ya?”. Entah tuli atau gak ngeh, si pejalan kaki itu malah jawab gini, “Orang baru ya? Jangan kuatir, banyak jalan menuju Roma kok,” Loh?
…
Sejenak gue ngerasa “termaafkan” setelah nulis postingan tanpa makna di atas. Ternyata banyak apologi untuk setiap masalah. Tapi jangan pernah menyelesaikan masalah dengan apologi! Ironisnya, sekarang ini gue lagi terbuai oleh sentuhan apologi. Keberatan? Anjing menggonggong kafilah berlalu…





Hi! My name is hmmmm... just call me Aban Nesta. I am currently working as a web designer and an adventurer by state of mind. I am quite involved with 

